Selasa, 07 Mei 2013

Kebutuhan Manusia Akan Agama


Rounded Rectangle: M. Baihaqi 11210153                                 Kebutuhan Manusia Akan Agama

Kutipan pertama

          “Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, wahai manusia ,bertaqwalah kepada tuhanmu yang telah menciptakanmu dari satu jiwa. Dari padanya ia menciptakan istrinya, dari pada keduanya ia mengembang biakkan banyak laki – laki dan perempuan (an Nisa’ 1)
Dalam satu ayat yang mengagumkan ini, terdapat empat prinsip sistematis, yang membatasi aspek yang permanen dari kehidupan manusia!
          “Bertaqwalah kepadatuhanmu yang telah menciptakanmu”
          “Dari satu jiwa”
          “Dari padanya Ia menciptakan istrinya”
          “Dari padanya Ia mengembang biakkan banyak laki – laki dan perempuan”
Sungguh merupakan mukjizat tersendiri apabila satu atau empat prinsip dengan susunan yang mudah dan luas, berkumpul sedemikian rupa di dalam satu ayat yang jumlah katanya terbata sini! Yakni satu ayat yang amat ringkas menceritakan semua sejarah manusia .didalam Al-Qur’an juga terdapat banyak ayat lain, yang mengupas secara detail aspek - aspek yang ada kaitannya dengan prinsip ini, sehingga menambah kejelasan. Sebagian dari sekian ayat ini, akan saya paparkan di tengah-tenngah pembahasan secara rinci keempat prinsip sistematis di atas. Akan tetapi disini saya hendak menonjolkan berkumpulnya empat prinsip ini dalam satu ayat di atas dimana kesederhanaannya membatasi realitas-realitas manusia yang bersifat fundamental dalam beberapa kata yang dapat dihitung.
Prinsip ketuhanan, prinsip kesatuan manusia, prinsip kesatuan dua jenis kelamin, dan prinsip masyarakat manuisa adalah empat prinsip sistematis yang membatasi kerangka acuan dimana manusia hidup.”[1]


Kutipan kedua

Taubat Raja Basrah
“Al-mubarok bin Ali mengabarkan kepada  kami, Hibatullah bin Ahmad mengabarkan kepada kami, Abu Thalib al-Usyari mengabarkan kepada kami, Hasan bin Shafwan mengabarkan kepada kami, ia berkata : Ibnu Abi Dunya mengabarkan kepada kami, ia berkata : Muhammad bin Husain bercerita kepadaku, ia berkata : Sulaiman bin Ayyub bercerita padaku, ia berkata : Aku mendengar Abbad al-Muhallabi berkata:
Pada awalnya raja basrah tekun beribadah, namun akhirnya ia lebih cenderung kepada dunia dan kekuasaan. Ia membangun sebuah istana dan memperkokoh
Ia menghidangkan makanan dan mengundang rakyatnya, merekapun hadir untuk menikmati hidangan makanan, minuman dan menyaksikan kemewahan istana tersebut dengan penuh kagum dan simpati. Setelah acara selesai merekapun meninggalkan tempat tersebut dan mendoakannya. Hal itu terus berlanjut hingga beberapa hari sampai semuanya selesai.
Suatuhari, raja duduk bersama beberapa anak buahnya seraya berkata: “Kalian telah melihat bagaimana kebahagiananku dengan bangunan ini. Hati kecilku mengatakan agar aku membuat kan bangunan semacam ini untuk setiap anakku. Karena itu bersenang – senaglah bersamaku selama beberapa hari untuk berbincang – bincang dan bermusyawarah mengenai apa yang aku inginkan dalam membangun rumah untuk anakku.”
Mereka bersenang – senang dan berfoya – foya untuk membahas tentang bangunan rumah untuk anak - anak sang raja. Ketika itu mereka mendengar seseorang berkata dari ketinggian bangunan itu:
          Wahai orang yang membangun dan manusia yang lalai akan kematian, jannganlah kalian berpanjangangan – angan karena kematian itu telah tertulis. Bagi setiap makhluk meskipun mereka hidup senang dan damai, sebab kematian akan tetap menimpa orang yang berharta. Jangan engkau membuat sebuah bangunan yang dapat engkau tempati, kembalilah engkau untuk tekun beribadah agar dosamu terampuni.
Mendengar suara itu, sang raja dan anak buahnya tertegun hingga rasa takut menyelimuti mereka. Ia berkata kepada anak buahnya: “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”
Mereka menjawab: “Ya, kami mendengarnya.”
Raja bertanya lagi: “Apakah kalian mendapaati apa yang aku dapati?”
Mereka balik bertanya: “Apa yang paduka dapati/”
Raja menjawab: “Demi Alllah, aku dapatkan kesejukan di hatiku dan kudapatkan seakan – akan kematian akan menjemputku.”
Mereka berkata: “sekali - kali jangan begitu paduka, mudah – mudahan paduka sehat wal afiat.”
Sang raja semakin menangis dan menghadap kearah mereka sambil berkata: “kalian semua adalah teman dan saudaraku, apakah yang aku kehendaki dari kalian?”
Sang raja memerintahkan mereka agar semua minuman dibuang dan seluruh tempat judi dibubarkan. Lalu ia berkata: “Ya Allah, sesungguhnya aku bersaksi padaMu bahwa aku telah bertaubat padaMu atas segala dosaku dan menyesali yang kuperbuat dihari kesenanganku. Hanya kepadaMU aku memohon agar diberi kemampuan untuk kembali kejalanMu.”
Kemudian sang raja sakit keras, dan ia terus terucap: “Kematian, demi Allah! Kematian, demi Allah.” Akhirnya sang raja menghembuskan nafas yang terakhir.”[2]


Kutipan ketiga

“Sebagai makhluk Allah manusia telah diberi seperangkat alat untuk bisa hidup di dunia. Mulai dari rambut,mata, ... dari hal sekecil apapun yang melekat pada diri manusia pasti ada gunanya.
Lebih dari itu, manusia lebih dilengkapi dengan karakter dan sifat.Baik positif, seperti lemah lembut, baik hati, penuh kasih sayang dan cinta, maupun yang negatif, misalnya kasar, kejam, bengis, ... kedua sifat itu sangat dipengaruhi oleh keturunan, keluarga, dan lingkungan yang membentuknya.
Sifat rakus atau tamak pasti dimiliki oleh setiap orang.Hanya saja masing - masing orang berlainan pertunbuhannya. Ada yang bertambah subur karena dia hidup dalam lingkungan keluarga yang materialistis, bermoral rendah, dan seterusnya.
Orang yang rakus, selalu dihinggapi rasa tidak puas diri. Angan – angannya jauh lebih besar ...
Orang rakus yang dibenarkan oleh agama hanya ada dua. Pertama, rakus pada ilmu pengetahuan, dan kedua, rakus harta namun pandai – pandai membelanjakan di jalan Allah SWT”.[3]




Kutipan keempat

Kedudukan Anak Menurut Pandangan Islam

“Apabila “AN-nasl” atau keturunan termasuk masalah dlaruriyat, maka dengan sendirinya persoalan –  persoalan yang berkaitan dengan anak menjadi sangat penting dan bersifat dlaruri juga. Dalam islam memandang anak dalam 3 dimensi (ukuran) yakni
·         Dimensi sosial ; … Dalam hubungan ini ajaran agama islam mengatur kewajiban orang tua terhadap anak … Semua itu dalam konteks upaya mewujudkan keturunan yang berkualitas sebagai dzurriyatan thayyibah.
·         Dimensi ekonomi ; Dalam Al-Qur’an dianjurkan kita memiliki keprihatinan terhadap keturuna kita, jangan sampai mereka menjadi generasi yang lemah secara ekonomi …
·         Dimensi religi ; Keturunan dapat menjadi salah satu asset amal jariyah, apabila anak tersebut menjadi anak yang saleh …[4]



Kutipan kelima

Pendekatan Islam Terhadap Etos Kerja Bangsa Indonesia

Kedua : Untuk menjawab kebanyakan mitos atau asumsi orang luar, yang menganggap bahwa islam / tepatnya umat islam sebagai sebuah struktur dan pandangan yang statis, monolitik atas kehidupan yang tradisinya memiliki sedikit makna dan relevansi bagi dunia modern sekarang. Padahal menurut J. Thomas cummings Islam membawa dirinya kepada banyak aspek pembangunan ekonomi. Bahwa prinsip – prinsip ekonomi islam tidak perlu menghambat laju pembangunan islam, sebaliknya, prinsip – prinsip islam mengemukakan factor – factor yang umumnya dianggap sebagai esensial untuk pembanguann ekonomi, seperti pemilikan pribadi, perangsang laba, kerja keras dan upah abadi bagi keberhasilan ekonomi.[5]


Tanggapan pengutip
Kutipan pertama, menggambarkan betapa sempurnanya sebuah ayat yang ada dalam AL-Qur’an, sehingga tidaklah salah bila seseorang amat memerlukan penjelasan – penjelasan dari kitab tersebut dan mau tidak mau harus berkecimpung dalam sebuah klaim agama. Secara simpelnya agar dapat memercayai akan kebenaran isi kitabullah maka seseorang haruslah beragama (beriman) terlabih dahulu.
Kutipan kedua, berupa sebuah cerita dimana agama berperan sebagai penenang dan penyejuk hati sehingga dapat mengendalikan nafsu manusia yang selalu ingin berfoya – foya. Intinya agama berperan sebagai pengikat atau pengendali nafsu, dimana nafsu apabila tidak ada yang mengendalikan akan senakin liar dan buas.
Kutipan ketiga, pada kutipan ini agama (islam) sebagai pengingat bahwa manusia adalah sebuah karya (ciptaan), untuk itu sudah sepantasnya bagi setiap yang diciptakan berterima kasih pada penciptanya. Dalam hal ini manusia disuruh untuk bersyukur kepadaNYA dan menyadari bahwa setiap yang telah diciptakan olehNYA pasti ada manfaat dan gunanya jadi seorang manusia harus bias memanfaatkannya sebaik mungkin (hal yang positif).
Kutipan keempat, agama (islam) berperan dalam hal ketarbiyahan (mendidik). Disini agama menginformasikan hal – hal yang perlu diperhatikan mengenai seorang buah hati kita, dimana pada setiap dimensi seorang wali harus bisa menempatkan dirinya sesuai dengan posisi. Jadi secara tidak langsung agama m,enberi arahan bagaimana seharusnya mendidik anak yang benar, oleh karena itu hanya orang – orang beragama saja yang mestinya bisa mendidik anak dengan benar.
Kutipan kelima, agama (islam) memang sebagai rahmatal lil alamin. Buktinya bila praktek ajaran – ajaran dijalankan akan menimbulkan hal yang amat luar biasa seperti yang terpapar diatas, hal yang tidak masuk akal ternyata malah menimbulkan efek yang amat hebat bagi kehidupan. Untuk itu salahlah anggapan para ateis yang menganggap agama tidak ada gunanya, hidup tanpa agamapun bisa, memeng bias tapi kurang sempurna dan pastinya akan kacau balau.


Daftar Referensi
Fatah, KH.Munawir Abdul, PantulanCahayaRasuljilid I Yogyakarta : PustakaPesantren, 2005
Hasan, Muhammad Tholhah, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia Jakarta : Tanjung Mas Raya, 2003
Maqdisi, IbnuQudamah Al, 132 KisahTaubat, mitrapustaka: 2003
Qutub, Muhammad, Evolusi Moral, Surabaya: 1995



[1] Muhammad Qutub, Evolusi Moral, (Surabaya:1995) hlm. 204-205
[2]IbnuQudamah Al-Maqdisi, 132 KisahTaubat, (mitrapustaka :2003) hlm. 317-320
[3]KH.Munawir Abdul Fatah PantulanCahayaRasuljilid I (Yogyakarta :PustakaPesantren, 2005) hlm. 7-9
[4] Muhammad Tholhah Hasan, Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia (Jakarta : Tanjung Mas Raya, 2003) hlm. 5-7
[5] Ibid hlm. 234-235

Senin, 06 Mei 2013

Mahasiswa Memilih Buku atau Gadget?


“Buku merupakan jendela ilmu.” Itulah semboyan setiap orang yang pernah menasehatiku. Guru, kakak, paman, ayah bahkan ibu tak pernah lupa mengingatkan supaya rajin-rajin membaca. Entah mengapa setiap kali aku disuruh membaca malah membuat akau semakin malas saja membaca buku yang ada, bahkan kalau perlu buku tersebut aku buang jauh dari hadapanku.
Orang yang lebih pengalaman tentunya lebih hebat dan lebih lihai dalam memberi nasehat kepada kita. Dengan sabar dan penuh perhatian mereka selalu mengajari betapa pentingnya sebuah buku, betapa besar peran buku dalam memenemani sang ilmuan bahkan betapa berharganya sebuah buku dalam melampiaskan kegelisahan. “Dengan secarik kertas yang aku  ambil dari sebuah buku tulis milikku, aku bisa membuat kisah sekolahku dan hal tersebut akan selalu aku ingat sebab dikala aku lupa aku akan menengoknya kembali.” Sedikit lamunanku tertegun ketika mendengar perkataan tersebut dari orang yang menasehatiku, dengan seketika aku langsung terfikirkan jika tak ada buku berarti orang zaman sekarang akan sulit mempelajari segala sesuatu yang telah ditemukan oleh pendahulu kita. Rosulullah sendiri telah menganjurkan para sahabatnya supaya menulis firman Allah, dan hal demikian dilakukan oleh sahabat dengan cara menuliskannya di tempat-tempat seadanya entah itu batu ataupun pelapah kurma. Nah ternyata buku lahir dengan tujuan mengabadikan ilmu-ilmu yang telah ada, kebayang tidak jika buku tidak ada pasti mushaf Al-Qur’an bagaimana bentuknya? Subhanallah. Bagaimana si aristoteles bisa menjadi orang yang dikenang oleh para pelajar jika ia tidak mengabadikan ilmunya dalam sebuah buku.
Dari sinilah aku menjadi gemar dengan buku, bahkan pacar pertamaku adalah buku. Kemanapun aku berada pasti tak kan lepas dengan buku, apalagi saat-saat kritis yaitu saat menjelang ujian pasti aku akan selalu memegang pacarku tersebut.
Yang membingunganku kali ini aku seakan telah melupakan pacarku tersebut. Kecanggihan elektronik telah berhasil menggoyahkan kesetiananku pada pacarku, sekarang aku semakin menjadi gak karuan. Rasa cinta yang begitu dalam dengan sang pacar kini telah tergantikan dengan gadget, awalnya sih pengen tidak dianggap gaptek sama teman-teman eh ternyata malah aku ketagihan dengan fasilitas yang serba instan tersebut. Ketika aku dapat kosa kata yang tak aku pahami aku larinya pasti kepacarku yang bernama kamus bahasa asing, kubuka ia selembar demi selembar guna mendapatkan kata yang aku incar. Kini aku tak perlu capek-capek menjamahi pacarku, dengan modal ketikan halus pada gadgetku, kemudian menekan enter dengan seketika aku langsung menemukan jawaban dari kata yang aku incar tersebut. Sekarang zaman modern, zaman yang memudahkan kita dalam memenuhi dahaga akan ilmu yang kita butuhkan, dari ilmu sains hingga ilmu khisab bahkan ilmu agamapun mudah kita dapatkan dengan gadget. Tak kusangka kemajuan zaman membuat pacarku tersebut tersingkirkan dari hadapanku, semakin lama semakin banyak ebook yang bermunculan sehingga membuat pacarku benar-benar tinggal kenangan. Koran, majalah, kamus bahasa asing, buku biologi, kimia, fisika, matematika bahkan bukhori muslim dam Al-Qur’anpun sudah ada yang berbentuk ebook. Sebagai seorang mahasiswa tentunya aku lebih menyukai gadget tersebut, banyak keuntungan yang aku dapat. Selain hemat waktu sehingga bisa melakukan aktifitas lain juga bisa memperirit uang bulanan, dari pada uang dibuat beli buku lebih baik digunakan untuk keperluan lain misalnya ditabung buat modal usaha.
Kata orang cinta pertama merupakan cinta yang sulit hilang. Hal inipun yang melandaku saat ini, semakin aku menikmati gadged malah semakin membuat aku rindu dengan pacarku. Ketika aku sedang asyik berduaan dengan gadgedku ternyata ada hal yang menggangguku, adakalanya batre low dan adakalanya aku harus menjahui air sebab pacar baruku itu anti banget sama air. Memang sih pacar pertamaku juga takut air tetapi tak setakut pacar keduaku. Aku sering berduaan dengan pacar pertama di dekat air mancur, bahkan tak lupa ketika aku bermain perahu aku juga mengajak pacar pertamaku. Hal tersebut takkan pernah aku lupakan sebab aku begitu suka tempat yang tenang untuk memahami isi hati pacarku, kebiasaanku itu tak bisa aku hilangkan itulah sebabnya aku agak risih ketika harus berduaan dengan gadged selain dia tak mau diajak ke sungai dia juga tak bisa jauh dari listrik, hee..hee... sebenarnya sih dia tak pernah menolaknya tapi akunya yang kasihan jika terjadi sesuatu pada gadget tersayangku.
Solusi yang aku ambil sekarang adalah aku harus tetap memiliki pacar keduaku (gadget) supaya aku tidak ketinggalan zaman. Apalagi kalau diskusi di kampus pasti dia tak terlupakan ada di tasku. Dan di sisi lain aku pasti meluangkan waktu untuk berduaan dengan pacar pertamaku (buku) supaya aku bisa dengan mudah memahami hal yang ingin aku ketahui. Jadi kali ini aku punya dua pacar yang selalu menemaniku sesuai dengan keahlian masing-masing pacarku. He...he...


Syair Manaqib KH. M. Moenawwir


Syair Manaqib KH. M. Moenawwir

Allahumma shalli wa sallim ‘alaa

Sayyidina wamaulana Muhammadin

‘Adadama fi ‘ilmillaahi sholatan

Daaimatan bi dawamin mulkilahi

Mbah Moenawwir lahire ono ing Kauman

Ngayogyokarto, hadiningrat

Ingkang Ibu, asmane nyai Khadijah

Ingkang Romo, asmane Mbah Abdullah Rosyad

Nggadahi guru, Mbah ‘Abdullah Kanggotan-Bantul

Syaikhona Kholil, Bangkalan-Maduro

Mbah Ya’i Sholih, Ndarat-Semarang

Mbah ‘Abdurrohman, Watucongol-Muntilan-Magelang

Tholabul ‘ilmi, ing kutho Makkah Al-Mukarromah

Kutho Madinah, Al-Munawwaroh

Ngaos Al-Qur’an, klawan sanad kang mutawatir

Barokah fiddunya, syafa’at fi yaumil akhir

Ingkang gurunipun, Syayikh Abdullah Sanqoro

Syayikh Sarbini, Syayikh Mukri

Syayikh Mansur , Syaikh Ibrohim Huzaimi

Syaikh Abdussyakur, lan Syayikh Musthofa

Wiridan Qur’an, kanthi istiqomah

Meniko bukti, sholihipun ‘amaliyah

Mbah Moenawwir, Priyagung ingkang minulyo

Penyambung sanad, Al-Qur’an se-Nusantoro

Pesantren Krapyak, dados saksi perjuangannya

Kagem kejayaan, Agami Islam

Nylametake umat, Bongsa lan Negara

Klawan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah

*ditashih: KH. Zaki Muhammad Hasbullah

KH. R. Najib Abdul Qodir

Haru, sepeninggalnya guru


Tepat pukul 07.30 WIB, pagi-pagi semua santri kaget dengan suara yang keluar dari speaker masjid Al-Munawwir. Masjid yang biasanya hanya terdengar suara laki-laki, kali ini justru terdengar suara seorang perempuan yang amat nyaring. Semula perhatian santri asyik dengan kesibukan di pagi hari. Seperti biasa, antri mandi, makan, tidur-tiduran dan mutholaah (kitab kuning). Namun di saat para santri memperhatikan suara yang keluar “Diberitahukan kepada semua ahlin Al-Munawwir,” kalimat pertama yang keluar dari sound masjid. Suara perempuan tersebut adalah suara dari istri Kiyai sepuh Al-munawwir yaitu Bu Nyai Ida.
“Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun,” lanjutan dari kalimat pertama, Serentak kegagetan santri bertambah, setelah didengarkan dengan seksama ternyata Bu Nyai menginformasikan bahwa Si Mbah Ahmad Warshun Munawwir meninggal dunia, adik dari suami beliau Mbah Zainal (kiyai sepuh Al-Munawwir). seketika semua santri bergegas pergi menuju komplek Q, tempat di mana kiyahi Warshun berada. Aktifitas para santri pun jadi berantakan, yang semula asyik-asyikan makan kini mereka harus segera menghabiskan makanannya, dan kegiatan untuk mutholaah kini harus ditutup, semua santri antri di kamar mandi. Semua santri tidak ingin melewatkan melihat Mbah Warsun Munawwir untuk terakhir kalinya, komplek Q adalah komplek yang mayoritasnya dihuni santri perempuan.
 Hari itu adalah tepat hari Kamis tanggal 18 April 2013. Entah ini merupakan peristwa menyedihkan sepanjang hayat, setelah ketidakberadaan seorang Kiyai yang sekarang telah pergi ke Rahmatullah. jenazah Mbah Warshun pun segera dimandikan. Tetesan biulir-bulir air mata tak mampu dibendung. Langit pun memperlihatkan mendungnya. Sebagai saksi di mana duka cita merasuk dalam hati para jenazah. dengan aliran air yang perlahan sang langit hendak menunjukkan betapa sedihnya ia di tinggal ulama’ pembuat kamus Al-Munawwir tersebut. Setiap santri yang hadir terlihat begitu sedih, meski demikian para santri tetap tegar dan berusaha bersikap lapang dada serta mengikhlaskan kepergian guru mereka. Dengan penuh kepedihan ada sebagian santri yang mengabadikan momen bersejarah tersebut dengan (menyimpan foto, kamus atau dan lain lain). Ada juga yang masih sempat online guna menginformasikan pada seluruh murid dari Mbah Warshun yang berada di Tanah Air. Tak perlu waktu yang lama santri-santri beliau yang sudah menjadi alumni satu persatu berdatangan ke kediaman beliau. Suasana ramai dan haru tak bisa terelakkan, seketika jalan Krapyak dipenuhi dengan mobil dan motor. Santripun dengan sigapnya menghandle untuk mengatur lalu lintas yang ada dan mengatur parkir guna memudahkan mereka yang mau bertakziah.
Ribuan orang berdatangan ke komplek Q, mulai dari pejabat hingga rakyat. Alim-ulama’pun tidak ketinggalan (mulai dari tingkatan pejabat, para ulama, juga masyarakat yang ada dipelosok tanah air), Habib Husen teman Mbah kiyahipun hadir bahkan Gus Mus yang asli Jatim datang (tidak ketinggalan), ada juga ulama’-ulama’ yang lain dan kebetulan adalah alumni dari Al-Munawwir. Gus Mus datang memilih menggunakan motor sebab tidak mau terjebak macet sehingga dapat melihat jenazah sang guru meski sebentar.
Jenazah dimakamkan dekat dengan ayah handanya (ayahandanya) yaitu KH. Munawwir, seorang ulama’ yang menjadi acuan hampir semua orang yang hafal Al-Qur’an di Tanah Air. Pemakaman dilakukan setelah sholat Asyar (ashar)  berjamaah di Masjid Al-Munawwir Krapyak Bantul Yogyakarta. Pengiringan jenazah hingga ke Pemakaman dipenuhi dengan umat islam (selaku warga umat islam yang ada di tempat pemakaman, ikut mengiringi kepergian jenazah). di sepanjang perjalanan menuju pemakaman terpaksa ditutup oleh pihak kepolisian mengingat begitu banyaknya umat yang mengantarkan beliau ke Pemakaman. Jarak Makam dengan Komplek Q cukup jauh kira-kira ada 5 KM, melewati beberapa jalan besar diantaranya Jalan Bantul dan Ringroat Selatan.
Para pengiring jenazah tak lelahnya mengeluarkan kalimat-kalimat syahadat, disertai dengan tetesan air mata beserta keringat akibat desak-desakan. Seusai jenazah dimakamkan seketika langit mengucurkan airnya dengan deras, sebelumnya hanya rintikan kecil yang keluar dari langit kali ini kucurannya benar-benar mengharuskan pengiring jenazah untuk berteduh. Meski demikian ada sebagian yang nekat melanjutkan perjalanan pulang sebab sudah kepalang basah sedari tadi. (seusai jenazah dimakamkan, terlihat awan yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi kian mendung. Rintikan hujan mulai membasahi tanah. Para petakziah memilih untuk berteduh guna menghindari kucuran hujan yang begitu deras, dan sebagian lagi petakziah ada yang memilih  bertekad untuk melanjutkan perjalanan pulang karena tubuhnya sudah terlanjur  sedari tadi basah kuyup.
Sesampainya di pondok, para santri masih terlihat lesu dan nampak raut kesedihan yang keluar dari wajah mereka (terlihat dari wajah para santri yang tampak lesu, juga kesedihan yang sepenuhnya belum hilang). Dan sebentar lagi adalah hari dimana para santriwati khataman Al-qur’an yang pelaksanaannya dibarengkan dengan peringatan haul KH. Muhammad Munawwir yang ke 74. Tiga hari setelah ditinggal pergi oleh Sang Guru mereka harus tampil di Panggung dengan sebaik mungkin,
Begitu malam datang, keharuan pondok semakin nampak. Komplek Huffadz yang biasanya ada acara mauludan kini acara tersebut ditiadakan, digantikan dengan tahlilan bersama untuk beliau Mbah Kiyai Warshun. Meski sejak pagi tadi mereka sudah mendoakan hingga sore tetap saja acara tersebut dihadiri oleh seluruh santri yang ada di komplek tersebut.
Malam berikutnya adalah malam dimana ada acara burdahan yang sudah diagendakan oleh Al-Munawwir sebelumnya. Acara tersebut tidak begitu ramai oleh pengunjung bahkan santri-santri sendiri banyak yang tidak mengikuti acara tersebut. Disamping masih dalam suasana haru kebetulan malam itu merupakan malam yang amat dingin.
Malam berikutnya berbeda dengan malam burdahan tadi. Kali ini adalah malam dimana sima’an Al-Qur’an yang semula hanya diagendakan untuk KH. Munawwir kali ini juga diperuntukan bagi Mbah Warshun. Orang yang mengikutipun banyak sekali, hampir 200 khataman yang berhasil dilaksanakan (dilakukan) dalam beberapa majelis yang ada.
Penutupan atau pembacaan do’a sima’an Qur’an (Al- Qur’an) dilakukan di Makam, tempat Mbah Munawwir dan Mbah Warshun disemayamkan. Udara yang sedari tadi terasa panas, kali ini menjadi semakin sejuk beriringan dengan semakin surupnya (tenggelamnya) matahari. Awan di atas para peziarah tak habis-habisnya menutupi matahari sore sedari awal pembukaan do’a. Nampak awan putih yang berbeda ketinggian saling bergantian menghalangi sinar matahari yang menuju arah peziarah. Semakin khusuk (khusyuk) peziarah dengan do’a khotmil qur’an membuat suasana semakin tenang tanpa suara kecuali suara kiyai yang membaca do’a.
Matahari semakin enggan nampak (menutupkan dirinya), pertanda akan dimulainya mega merah yang bermunculan (keluar). Azhan (adzan) magrib yang dikumandangkan membuat santri-santri semakin sibuk dengan tugas-tugas yang telah diberikan. Seusai sholat berjamaah, ada kerumunan wanita-wanita berseragam pink yang menarik perhatian, mereka bersiap untuk menaiki panggung yang berada di sebelah masjid. Suara MC yang amat nyaring semakin menarik perhatian, hadirin yang masih berada di jalan utama bergegas menuju tempat yang disediakan oleh panitia, satu persatu nama wanita yang berseragam pink disebutkan sementara itu para santri yang tidak kebagian tugas semakin asyik memandangi mereka. Hanya santri yang menjadi calon khotimin lah yang tidak mendapat tugas sebagai panitia. Khotimin putra sebenarnya akan melaksanakan pula apa yang khotimat lakukan saat ini tetapi masih menunggu beberapa bulan bertepatan dengan haul Mbah Abd Qodhir (putra dari Mbah Munawwir), termasuk salah satu ulama’ qur’an penerus dari ayahandanya.
Sehabis jama’ah isya’ berlangsunglah prosesi khataman yang telah ditunggu-tunggu. Nampak para wali santriwati memenuhi kursi, pandangan mereka lurus ke depan panggung yang berisikan anak-anak mereka. Hal yang menarik perhatian pun terjadi di sana, ada salah satu khotimat yang pingsan entah apa penyebabnya, dengan seketika teman-teman yang ada disebelahnya memeganginya dan membawanya ke ruangan.  Hati seorang santriwati yang masih teringat dengan seorang gurunya ternyata mempengarui penampilan. Ada khotimat yang kalang kabut hingga kehilangan nada awal, untung masih bisa ditutupi oleh khotimat yang lain sehingga pembacaan surat masih bisa berlangsung hingga selesai.

Senin, 15 Oktober 2012

MOTIVASI KERJA DAN MENCARI RIZKI HALAL



MOTIVASI KERJA DAN MENCARI RIZKI HALAL

MAKALAH
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah Hadits
Dosen Pengampu : Prof. DR. H.M. Erfan Soebahar, M.A.










Disusun Oleh :
M. Abdul Ghoffar       103211023 (PBA 2A)
M. Baihaqi                   103211024 (PBA 2A)
M. Yusuf Al Faruq      103211025 (PBA 2A)
Malihatun Nisa’           103211026 (PBA 2A)




FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011
MOTIVASI KERJA DAN MENCARI RIZKI HALAL

       I.       PENDAHULUAN
Agama Islam telah memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap orang yang bekerja dengan sungguh-sugguh. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya firman Allah SWT. dan hadits Nabi SAW. yang memotivasi manusia untuk giat bekerja dan menjauhi sikap-sikap yang menunjukkan kelemahan dan kemalasan. Nabi Muhammad SAW. juga telah menyatakan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Akan tetapi alangkah tersayatnya hati ini jika melihat fenomena akhir-akhir ini. Begitu banyak orang yang dengan senang hati menempatkan dirinya menjadi “tangan di bawah”. Bahkan hal itu sudah menjadi panorama yang sangat tidak langka, dimana hampir di setiap perempatan dan pemberhentian lampu merah, kita sering sekali menyaksikan orang-orang yang mengulurkan tangannya meminta sedekah, bahkan mencegat para pengemudi dengan kursi atau tong sampah dengan tanpa melupakan tulisan “untuk pembangunan masjid”. Sungguhlah pemandangan seperti itu sangat tidak mencerminkan karakteristik pribadi muslim yang merasa malu meminta dan besar keinginannya untuk memberi.
Makalah ini berisi sedikit penjelasan tentang beberapa hadits Nabi SAW. Yang memotivasi kita untuk selalu giat bekerja dan mencari rizki halal. Yaitu bekerja yang dilandasi dengan semangat tauhid dan tanggung jawab uluhiyah yang merupakan salah satu cirri khas dari kepribadian seorang muslim.

    II.       RUMUSAN MASALAH
Dalam makalah ini, penulis membatasi masalah-masalah yang akan dibahas, meliputi:
A.      Hadits-hadits Nabi Tentang Motivasi Kerja
B.       Kedudukan Orang yang Meminta-minta Menurut Hadits Nabi
C.       Sektor Lapangan Kerja dalam Perspektif Hadits Nabi



 III.       PEMBAHASAN
A.      Hadits-hadits Nabi Tentang Motivasi Kerja
1.      Sekilas Tentang Bekerja dan Mencari Rizki Halal
Bekerja adalah segala aktivitas dinamis dan mempunyai tujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu (jasmani dan rohani), dan di dalam mencapai tujuannya tersebut dia berupaya dengan penuh kesungguhan untuk mewujudkan prestasi yang optimal sebagai bukti pengabdian dirinya kepada Allah SWT[1]. Di sisi lain, makna bekerja bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengerahkan seluruh aset, pikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan dan menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khaira ummah) atau dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa dengan bekerja manusia itu bisa memanusiakan dirinya[2].
Allah SWT. telah membekali semua sarana kepada manusia demi kebaikan hidup mereka. Manusia diberi akal agar dijadikan bekal untuk berpikir, tenaga dan fisik yang kuat agar dijadikan bekal untuk beribadah dan bekerja, dan hati agar dijadikan bekal untuk menikmati dan merasakan. Tentu saja manusia harus memanfaatkan dan mengoptimalkan kinerja sarana-sarana tersebut sebagai wujud syukur pada-Nya. Bahkan Allah pun sudah memberikan jaminan rizki kepada makhluq-makhluqNya, akan tetapi rizki yang telah dijaminkan oleh-Nya tersebut tidak bisa datang dengan begitu saja, melainkan perlu perjuangan dan usaha keras untuk menggapainya[3].
Mengingat betapa pentingnya bekerja dan mencari rizki tersebut, maka Nabi Muhammad SAW. pun turut memotivasi ummatnya untuk bekerja. Hal itu tercermin dari beberapa hadits beliau yang akan penulis coba uraikan satu persatu.


2.      Hadits-hadits Tentang Motivasi Kerja
Secara lebih hakiki, bekerja bagi seorang muslim adalah ibadah, bukti pengabdian dan rasa syukurnya untuk mengolah dan memenuhi panggilan Ilahi dalam memanfaatkan segala macam bentuk potensi yang telah diberikan Allah SWT. Dengan bekerja itulah seseorang juga dapat memperbanyak amal. Nabi SAW. Bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا: أنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ وَالْـتَّعَفُّفَ وَالْمَسْأَلَةَ: (اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، فَالْيَدُ الْعُلْيَا هِيَ الْمُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى هِيَ السَّائِلَةُ). [4] ﴿ رواه البخاري فى كتاب الزكاة
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra. Bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda saat beliau di atas mimbar, beliau menyebutkan tentang shodaqoh, menjaga kehormatan diri, dan perihal meminta: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi. dan tangan di bawah adalah orang yang meminta”. (HR. Bukhori dalam Kitab Zakat)
Secara umum, dapat dipahami dari hadits tersebut bahwa Nabi Muhammad SAW. sangat menganjurkan orang-orang yang kaya untuk bersedekah, dan orang-orang miskin untuk menjaga kehormatan diri dari meminta-minta[5].
Mayoritas ahli hadits menafsirkan lafal اَلْيَدُ الْعُلْيَا pada hadits tersebut dengan المنفقة yang berarti orang yang mentasarufkan hartanya, salah seorang di antaranya ada yang menafsirkan dengan المتعففة yaitu orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta, ada juga yang mengartikannya dengan المعطى yaitu orang yang memberi. Memang banyak sekali redaksi hadits di atas yang berbeda-beda, akan tetapi semakna, namun kesemuanya saling mendukung bahwa yang dimaksud  disini adalah  اَلْيَدُ الْعُلْيَا orang yang mentasarufkan hartanya atau orang yang memberi[6].
Sedangkan lafal الْيَد السُّفْلَى dalam hadits tersebut berarti orang yang meminta, ada juga yang mengatakan sebagai orang yang mengambil pemberian, baik dengan meminta ataupun tidak. Namun menurut Ibnu Arabi, yang dimaksud di situ adalah orang yang meminta, bukan orang yang mengambil pemberian[7]. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tangan manusia dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:
a.          Orang yang memberi (tergolong tangan di atas)
b.         Orang yang meminta (baik yang mengambil pemberian ataupun tidak, semuanya tergolong tangan di bawah)
c.          Orang yang menjaga kehormatan diri dari mengambil pemberian (tergolong tangan di atas secara maknawi)
d.         Orang yang mengambil pemberian tanpa meminta (menjadi perselisihan para ulama’).[8]
Dari hadits tersebut juga dapat diambil sebuah hikmah bahwasanya sebaiknya seseorang itu bekerja keras agar bisa memberi dan menjaga kehormatan dirinya dari meminta-minta. Karena orang yang seperti itu akan dijaga kehormatannya oleh Allah SWT. Dia akan mencukupkan kebutuhannya dan menumbuhkan sifat qona’ah dalam hatinya. Sebagaimana hadits Nabi SAW. “… Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya, maka Allah akan menjaga kehormatan dirinya, dan barangsiapa yang menganggap cukup dengan apa yang telah diberikan padanya, maka Allah akan mencukupkan kebutuhannya”. (HR. Bukhori)
Dalam haditsnya yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Nabi SAW. juga bersabda:
عَنْ أبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَّ: (لأنْ يَحْتَطِبَ أحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِه، خَيْرٌ لَهُ مِنْ أنْ يَسْألَ أحَدًا فَيُعْطِيَه أوْ يـَمـْنَعَهُ).  ﴿ رواه البخاري فى كتاب المساقاة [9]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Dia bersabda: Sungguh jika salah seorang dari kamu mengumpulkan seikat kayu bakar, lalu membawanya di atas punggung, (kemudian menjualnya), itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang lain, dimana orang itu kadang memberinya dan kadang menolaknya. (HR. Bukhori dalam Kitab Musaqoh)

Dalam hadits tersebut Nabi Muhammad SAW. secara tersirat mengisyaratkan bahwa manusia itu tidak sepantasnya merendahkan dirinya dengan meminta-minta. Karena meminta-minta itu jelas menyalahi kodrat ilahi, yaitu kodrat Allah yang telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia (QS. 18: 70). Pekerjaan mencari kayu bakar yang telah disebutkan dalam hadits tersebut merupakan pekerjaan yang simpel, walaupun cukup berat dan mengandung konsekuensi mendapatkan hasil yang sangat minim. Akan tetapi, hal tersebut dianggap lebih terhormat jika dibandingkan dengan meminta-minta[10].
Faedah diawalinya hadits tersebut dengan qosam yaitu untuk menguatkan pada orang yang mendengar bahwa Nabi SAW. dalam hadits tersebut sangat menganjurkan kita untuk menjaga kehormatan diri dari meminta-minta dan menjauhkan diri darinya, walaupun dengan cara merendahkan diri dalam mencari rizki dan menempuh kesulitan (mencari kayu bakar dan memulung sampah misalnya). Kemudian yang dimaksud khoir dalam hadits tersebut bukanlah untuk tafdhil, karena tiada sedikitpun kebaikan dalam meminta-minta bagi orang yang mampu bekerja, bahkan menurut Imam Syafi’i haram hukumnya orang tersebut untuk meminta-minta[11].

 Nabi SAW. juga bersabda :
عن المقدام رضي الله عنه، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (مَا أكَلَ أحَدٌ طَعَامًا قَطُّ، خَيْرًا مِنْ أنْ يَأكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإنَّ نَبِيَّ اللهِ دَاوُدَ عَلَيْه السَّلاَمُ كَانَ يَأكُلُ مِنْ عَمِلَ يَدِهِ).[12] ﴿ رواه البخاري فى كتاب البـيوع
Diriwayatkan dari Miqdam ra. Dari Rasulullah SAW., beliau bersabda: “Tiada seorangpun yang makan makanan yang lebih baik daripada makan yang ia peroleh dari hasil usahanya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud as. pun makan dari hasil usahanya sendiri”. (HR. Bukhori dalam Kitab Jual Beli)
Hadits tersebut menjelaskan bahwa segala bentuk konsumsi baik berupa makan, minum, berpakaian, dan lain-lain itu sebaiknya berasal dari hasil usaha sendiri, tidak karena diberi apalagi meminta. Disebutkannya ‘makan’ dalam hadits tersebut  itu karena makan adalah salah satu bentuk konsumsi yang paling sering dilakukan. Karena itu, dapat diambil pelajaran bahwa seseorang harus bekerja agar bisa melakukan konsumsi dan mencukupi kebutuhannya.
Kemudian lafal ‘amali yadihi (pekerjaan tangannya) disitu adalah kinayah dari al-kasb (bekerja). Hal ini dikarenakan kebanyakan pekerjaan itu dilakukan dengan tangan. Jadi, tidak menafikan pekerjaan yang dilakukan dengan tidak menggunakan tangan, seperti upah yang didapat karena hasil mengaji al-Qur’an (kasb an-nadhor), menyimak pelajaran (kasb as-sima’), berpuasa bagi orang yang telah meninggal (kasb bi al-a’dho’ ukhro), dan lain-lain.[13] Dalam hadits tersebut Rasulullah SAW. juga menyebutkan bahwa Nabi Dawud as. itu juga makan dari hasil usahanya sendiri. Beliau merupakan seorang pembuat baju besi (zarrad), padahal pada saat itu beliau sebagai raja. Dari sini pula dapat diambil pelajaran bahwa siapapun itu apapun pangkatnya, tetap harus bekerja dan mencari rizki yang halal.

 B. Kedudukan Orang yang Meminta-minta Menurut Hadits Nabi
Bekerja merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang sehat secara fisik dan mental. Bekerja juga merupakan wujud syukur seseorang kepada Allah SWT. Karena dia telah memanfaatkan nikmat kesehatan fisik dan segala bentuk potensi yang telah diberikan Allah padanya dengan baik dan benar. Karena itulah Islam sangat menghargai orang yang bekerja keras dan makan minum dari hasil usahanya sendiri. Sebaliknya, Islam sangat menentang sikap meminta-minta, karena meminta-minta itu bukanlah cerminan pribadi seorang muslim. Nabi SAW. pun telah menghimbau kita untuk menjaga kehormatan diri dan tidak meminta-minta sebagaimana yang telah beliau jelaskan dalam hadits-haditsnya. Bahkan dalam suatu hadits beliau mengancam secara halus bahwa orang yang meminta-minta itu akan dekat dengan kemiskinan. Sebagaimana sabdanya :
عَنْ أبِي كَبْشَة الأنْـمَارِي أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَّ قال: ( مَنْ فَتَحَ عَلىَ نَفْسِهِ بَابًا مِنَ السُّؤاَلِ فَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ سَبْعِيْنَ بَابًا مِنَ الفَقْرِ)[14]. ﴿ رواه الترمذي
Diriwayatkan dari Abi Kabsyah al-Anmari ra. Bahwasanya Rasulullah SAW. Bersabda: “Barangsiapa membuka sebuah pintu meminta-minta untuk dirinya, maka Allah akan membukakan untuknya 70 pintu kefakiran”. (HR. Turmudzi)

Pada hakikatnya meminta-minta hukumnya haram dan tidak diperbolehkan kecuali ketika dalam keadaan dharurat. Penyebab diharamkannya meminta-minta tidak terlepas dari beberapa hal berikut ini:  Pertama, menampakkan komplain atau pengaduan seseorang pada Allah. Kedua, menghinakan dirinya pada selain Allah, padahal seorang muslim itu tidak pantas menghinakan dirinya pada selain Allah SWT. Ketiga, Pada umumnya meminta-minta itu menyakiti perasaan orang yang dimintai, karena barangkali dia tidak berkenan memberi dan malu akan dianggap sebagai orang yang bakhil jika menolaknya. Jika ia memberi maka uangnya berkurang, dan jika dia tidak memberi  maka derajatnya akan berkurang[15].

C. Sektor Lapangan Kerja dalam Perspektif Hadits Nabi
Semua rizki manusia telah tersedia dengan amat lengkap. Manusia hanya perlu bergerak (berhijrah) dan berusaha untuk menjemput rizkinya. Ada banyak sektor yang dapat dimasuki sebagai wadah untuk mengais rizki. Di antaranya adalah sektor perdagangan, sektor pertanian, sektor perindustrian, sektor jasa, dan beragam sektor lainnya. Berikut ini penulis akan coba memaparkan sebagian kecil perspektif hadits-hadits Nabi terhadap sektor-sektor tersebut.
1.     Sektor Perdagangan (Bisnis)
Lembaran sejarah Islam telah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya merupakan pebisnis ulung dalam hal perdagangan yang memiliki semangat juang yang tinggi. Rasulullah dikenal sebagai pedagang ulung yang bergelar al-Amin (dapat dipercaya). Abu Bakar dan Utsman dikenal sebagai pedagang pakaian[16]. Bahkan ketika Rasulullah ditanya seorang sahabat mengenai mata pencaharian apa yang paling baik, beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang yang dilakukan sendiri dan setiap jual beli yang baik (mabrur)”[17].
Ada juga hadits lain terkait keutamaan berdagang (berbisnis). Hadits ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Nabi SAW. bersabda:
عَنِ الزُّبَـير بن العَوام رَضِيَ اللهُ عَنْه، عَنِ النّبـِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: (لأنْ يَأخُذَ أحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأتِيَ بِـحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَـبِيْعُها، فَيَكُفُّ اللهُ بِها وَجْهَهُ، خَيْرٌ لَه مِنْ أنْ يَسْألَ النَّاسَ، أعْطَوْهُ أوْ مَنَعُوْه)[18]. ﴿ رواه البخاري فى كتاب المساقاة
Diriwayatkan dari Zubair bin Awwam ra. Dari Nabi SAW. beliau bersabda: “Sungguh jika salah seorang di antara kamu mengambil talinya, kemudaian membawa seikat kayu bakar di punggungnya, lalu menjualnya, sehingga Alah menutup air mukanya (kebutuhannya), maka itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang, dimana  ia diberi maupun ditolak”. (HR. Bukhori)
Abdullah Zaky al-Kaff dalam bukunya Ekonomi dalam Perspektif Islam menjadikan hadits ini sebagai landasan dalam kaidah ekonomi, yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Penjelasannya sebagai berikut:
a.       Mencari dan mengerjakan kayu bakar berarti berusaha menambah produksi
b.      Berusaha menjualnya berarti melakukan distribusi atau pemasaran
c.       Memakannya berarti memenuhi konsumsi
d.      Menyedekahkan kepada orang lain berarti mengerjakan rencana sosial[19].
2.     Sektor Pertanian
Imam Muhammad bin Hasan al-Syaibani dalam kitabnya al-Iktisab, menjelaskan bahwa pertanian adalah sector pertama dan terpenting serta paling produktif dari segala ekonomi manusia. Menurutnya, usaha pertanian itu lebih penting dan lebih mulia daripada perdagangan, karena pertanian bersifat produktif dan lebih banyak faedahnya.
3.     Sektor perindustrian
Di samping bidang pertanian, kaum muslimin juga didorong untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang industri dan kerajinan, karena keduanya juga sangat penting untuk kehidupan. Nabi SAW. bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنّ رَسُولَ اللّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: "كَانَ زَكَرِيَاءُ نَجّاراً".[20]
﴿ رواه مسلم فى كتاب الفضائل
Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwasanya Rasulullah SAW. bersabda: “Dulu Nabi Zakariya adalah seorang tukang kayu”. (HR. Muslim dalam Kitab Fadhoil)

Hadits tersebut tergolong hadits yang menerangkan fadhilah (keutamaan) para Nabi. Di situ dijelaskan bahwa Nabi Zakariya merupakan seorang tukang kayu. Tukang kayu bukanlah profesi yang merendahkan keperwiraan atau kehormatan, akan tetapi merupakan profesi yang utama. Berbagai macam bentuk kerajinan kayu yang sangat indah dan bahkan sebagian besar barang-barang yang kita gunakan sehari-hari adalah hasil karya jerih payah tukang kayu yang luar biasa.
Dalam hadits lain dari Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Hakim, Rasulullah SAW. bersabda:
كانَ دَاوُدُ زَرَّادًا وَكاَنَ آدَمُ حَرَّاثًا وَكَانَ نُوْحٌ نَجَّارًا وَكاَنَ إدْرِيْسُ خَيَّاطًا وَكَانَ مُوْسَى راَعِيًا ﴿ رواه الحاكم
Nabi Daud as. adalah seorang tukang besi pembuat senjata, Nabi Adam adalah seorang petani, Nabi Nuh adalah seorang tukang kayu, Nabi Idris adalah seorang tukang jahit, dan Nabi Musa adalah seorang penggembala”.
Dari uraian hadits tersebut, dapat diketahui bahwa para Nabi dan Rasul telah merintis semangat berindustri yang luar biasa. Karena itu, masyarakat Islam setidaknya tergugah hatinya untuk mengembangkan bidang perusahaan dan industry[21].
4.     Sektor Jasa
Dahulu, sector jasa masih bersifat tradisional dan terbatas sehingga lebih mirip pekerja sewaan. Namun, sekarang bentuk jasa telah berkembang menjadi bermacam-macam. Dulu Rasulullah SAW. juga menjual jasa yaitu menggembalakan ternak milik orang lain selama beberapa tahun. Ada sebuah hadits yang dapat diangkat sebagai dalil mengenai hal ini. Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang nabipun yang tidak menggiring domba”. Ada Seorang sahabat yang bertanya pada beliau, “Apakah engkau juga ya Rasul?” Beliau menjawab: “Demikian halnya saya”. (HR. Muslim)





 IV.       KESIMPULAN
Dari makalah yang telah dipaparkan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa:
1)            Islam memandang terhormat orang yang bekerja dan mencari rizki halal. Hal ini terbukti dari begitu banyaknya ayat dan hadits Nabi yang memotivasi manusia untuk bekerja.
2)            Bekerja dan mencari rizki halal harus diniati ibadah sebagai manifestasi syukur seseorang pada Sang Khaliq
3)            Seorang muslim tidak selayaknya merendahkan dirinya untuk meminta-minta, kecuali dalam keadaan darurat.
4)            Seseorang dipersilahkan memilih sektor lapangan kerja untuk bekerja yang sesuai dengan potensinya, asalkan pekerjaannya itu halal.

    V.       PENUTUP
Demikian apa yang dapat disajikan oleh penulis, semoga dapat memberikan manfaat bagi siapapun yang membacanya. Tentu masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan dalam makalah yang singkat ini, untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan demi penyempurnaan makalah ini.




                          



DAFTAR KEPUSTAKAAN

Al-Asqolani, Ibnu Hajar, Fathul Baari, Mausu’ah Hadits an-Nabawy as-Syarif oleh Mauqi’ Ruh al-Islam pada tahun 2006, th.
Al-Bukhari, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari juz I, Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2008.
Al-Ghazali, Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya’ Ulum ad-Din juz II, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2007.
Al-Naisabury, Abu Husain Muslim bin al-Hijaj, Shahih Muslim, Mausu’ah Hadits an-Nabawy as-Syarif oleh Mauqi’ Ruh al-Islam pada tahun 2006, th.
Al-Shadiqi Muhammad bin ‘Allan, Dalil al-Falihin, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2006.
Al-Syakir, Usman bin Hasan, Durrotun Nasihin, Semarang: Pustaka Alawiyah, 2003.
Asmara, Toto, Membudayakan Etos Kerja Islami, Jakarta: Gema Insani, 2008.
Rahman, Fathur, Giat Bekerja, Yogyakarta: Insan Madani, 2008.
Supriono, Arif, Seratus Cerita Tentang Akhlaq,  Jakarta: Republika, 2004.





[1] Toto Asmara, Membudayakan Etos Kerja Islami, (Jakarta: Gema Insani, 2008), hlm. 27.
[2] Ibid., hlm. 25.
[3] Fathur Rahman, Giat Bekerja, (Yogyakarta: Insan Madani, 2008), hlm. 49-50.
[4]Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih Bukhari, (Beirut: Dar al-Kutub al-Islamiyah, 2008), juz I, hlm. 497.
[5] Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Baari, (Mausu’ah Hadits an-Nabawy as-Syarif oleh Mauqi’ Ruh al-Islam pada tahun 2006), th.
[6] Ibid., Lihat juga Muhammad bin ‘Allan al-Shadiqi, Dalil al-Falihin, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2006), Juz II, hlm. 98.
[7] Ibid.
[8]Ibid., hlm. 99. Lihat juga Ibnu Hajar al-Asqolani, Op.Cit., th.
[9] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Op.Cit., Juz II, hlm. 102.
[10] Arif Supriono, Seratus Cerita Tentang Akhlaq, (Jakarta: Republika, 2004), hlm. 35-36
[11] Muhammad bin ‘Allan al-shidiqy, Op.Cit., hlm. 426-427.
[12] Muhammad bin ‘Allan al-Shidiqy, Op.Cit.,Juz II,  hlm. 428.
[13] Ibid.
[14] Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah, 2007), juz II, hlm. 86.
[15] Usman bin Hasan al-Syakir, Durrotun Nasihin, (Semarang: Pustaka Alawiyah, 2003), hlm. 95
[16] Fathur Rahman, Op.Cit., hlm. 54.
[17] Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Op.Cit., hlm. 86.
[18] Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Op.Cit., Juz II, hlm. 104.
[19] Fathur Rahman, Op.Cit., hlm. 56.

[20] Abu Husain Muslim bin al-Hijaj al-Naisabury, Shahih Muslim, (Mausu’ah Hadits an-Nabawy as-Syarif oleh Mauqi’ Ruh al-Islam pada tahun 2006), th.

[21] Fathur Rahman, Op.Cit., hlm. 59-60